Optimisme dan Pesimisme Pembelajaran
Berbagai peristiwa yang dialami siswa dapat mempengaruhi pola pikir. Peristiwa menyenangkan, membuat remaja cenderung merasa bahagia dan optimis. Peristiwa menyakitkan cenderung membuat siswa merasa sedih, pesimis, stress bahkan depresi. ElBahdal (2010) menyatakan beberapa alasan yang mempengaruhi individu menjadi pesimis, yaitu: (1) kekurangan, individu menggunakan alasan kekurangan selalu menyesali sumbersumber kesuksesan yang tidak dimiliki, (2) kekalahan, dan (3) keterbatasan. Studi yang dilakukan di Abington Township, oleh Jaycox, Reivich, Gillham, dan Seligman pada tahun 1994 (Seligman, 2008) menjelaskan secara keseluruhan presentase anak yang menunjukan pesimisme bahkan gejala depresi ringan hingga depresi berat sangatlah tinggi yaitu antara 2045%. 10% anak mengikuti workshop optimisme. Hasil penelitian menunjukan anak-anak yang tidak mengikuti workshop optimisme memiliki gejala tekanan depresi yang lebih besar dibandingkan dengan anak-anak yang mengikuti workshop optimisme...